Paroki Sandai

Sejarah Gereja

Sejarah berdirinya Gereja Katolik Paroki Sandai.

MASUK DAN PERKEMBANGAN AWAL KEKATOLIKAN

               Dalam catatan sejarah, di antara tahun 1911 – 1917, para misionaris sudah mendirikan sebuah sekolah Tionghoa dan rumah guru di Sandai. Sekolah tersebut didirikan karena ada seorang guru (Sensang) bernama Ng Song Po. Akan tetapi, karena guru tersebut lantas kembali ke Tiongkok, sekolah tersebut ditutup. Padahal, sekolah tersebut juga mendidik banyak anak dalam kehidupan beragama katolik.

Setelah Afdeling Ketapang ditetapkan pada 1936 oleh Pemerintah Belanda, pada tahun-tahun tersebut—sebagaimana di Tumbang Titi—Sandai ditetapkan sebagai Onder District di bawah Matan Hulu. Di sana juga terdapat seorang Mantri Controleur. Akan tetapi, sebagaimana terlihat dalam sejarah kekatolikan di Randau maupun Kepari dan Sepotong, kekatolikan di Sandai tidak begitu berkembang karena hubungan antara misi dengan Mantri Controleur yang kurang baik. Oleh karena itu, dalam perkembangannya, meskipun Sandai merupakan sebuah Onder District, kekatolikan lebih banyak berkembang di daerah sekitarnya.

Maka, jika menelusuri data sejarah, sudah ada Umat Beriman Katolik di Sandai bahkan sejak sebelum Randau menjadi stasi di bawah Tumbang Titi (1938). Hal ini terlihat cukup jelas terlihat bukan hanya bahwa di tempat tersebut pernah didirikan sebuah sekolah Cina, akan tetapi juga karena dalam beberapa kesempatan, ada misionaris yang datang ke Sandai seperti P. Marcellus OFM Cap pada 1930-an[1]. Meskipun demikian, P. Leo de Jong OFM Cap memberikan catatan yang menarik berkaitan dengan kekatolikan di Sandai. Beliau menuliskan, “Dalam pekerjaan misionaris kami, banyak hal baik yang harus dilonggarkan dan banyak hal buruk yang mesti ditoleransi agar tidak melukai ambisi orang-orang licik yang punya banyak kepentingan”[2].

 

PERJALANAN SEBAGAI STASI

Pada dasarnya, seluruh wilayah yang saat ini disebut sebagai Regio Tengah[3] pada awal perkembangan misi setelah penjajahan Jepang merupakan tanggungjawab basis misi (paroki) Hati Kudus Tuhan Yesus Randau yang diresmikan pada tahun 1948. Pada tahun tersebut, sudah ada beberapa misionaris yang menetap di Randau, seperti P. Augustinus Dullaert, CP (Randau, 1948 – 1952), P. Plechelmus Dullaert, CP (Randau, 1948 – 1950), P. Canisius Pijnapples, CP (Randau, 1949 – 1954), P. Laurentius Puts, CP (Randau, 1949 – 1952). Akan tetapi, besar juga kemungkinan bahwa P. Raymundus de Groot, CP (Randau, 1952 – 1959) dan P. Eduard Corbet, CP (Randau, 1953 – 1960) juga pernah mengunjungi Sandai meskipun keduanya berfokus pada pengembangan Paroki Keluarga Kudus Sepotong dan Paroki St. Petrus & Paulus Sungai Daka.

Dalam sejarah perkembangannya, Sandai menjadi sebuah stasi di bawah Menyumbung ketika tempat tersebut diangkat statusnya sebagai Paroki pada 10 Juni 1961. Ketika diresmikan sebagai sebuah Paroki, Menyumbung memiliki tanggungjawab untuk melayani wilayah Sandai sampai ke Hulu Keriau (termasuk Bengaras), serta sepanjang Sungai Bihak sampai ke Lubuk Kakap.[4]

Dua dari daerah pedalaman yang pada saat ini merupakan stasi di bawah tanggungjawab reksa pastoral Sandai adalah Sekukun dan Sungai Kiri. Pertama, di Sekukun, para misionaris ingin membangun sebuah sekolah misi. Hal ini terjadi karena para misionaris berkenalan dengan A Sjong, seorang katolik Tionghoa yang berasal dari Sandai, namun memiliki warung/toko di Sekukun. Akan tetapi, ketika hendak mendirikan sebuah sekolah misi, Mantri Controleur Sandai yang bernama Goesti Moeslima berangkat juga ke Sekukun dan memaksa untuk membangun sekolah yang dikehendaki oleh Panembahan. Seorang anak laki-laki dari kelas 5 diangkat untuk memimpin pendidikan dan menerima kompensasi untuk semua jenis pekerjaan. Namun, ternyata tuntutan itu terlalu tinggi, maka dalam waktu satu tahun saja sekolah tersebut ditutup. Kiranya, misi memiliki masa depan yang kecil.

Kedua, Sungai Kiri merupakan kampung yang terletak di anak sungai kiri dari Jelai. Bersama dengan Petebang dan Pasir Mayang, misi membentuk pusat yang bagus untuk sekolah. Sudah beberapa kali masyarakat—melalui keluarga katolik yang bernama Joemal—meminta untuk mendirikan sekolah misi karena mereka tidak menginginkan sekolah Melayu. P. Martinus Verstalen OFM Cap menuntut agar permintaan mereka diajukan secara tertulis dengan tandatangan semua kepala dan pejabat daerah. Hal ini dilakukan karena beliau tidak ingin mengambil resiko lagi dan Panembahan relah secara tegas menetapkan—setelah kasus di Kepari—bahwa permintaan pendirian sekolah harus dibuat secara tertulis.

Dalam beberapa kesempatan, orang-orang yang terlibat dalam pendirian sekolah di Sungai Kiri datang ke Ketapang untuk mengajukan pendirian tersebut. Akan tetapi, mereka ditanyai, demikian: “Apakah Anda ingin mendirikan sekolah misi? Bukankah Anda lebih memilih sekolah negeri?”. Jawaban ‘ya’ untuk pertanyaan pertama, tidak dapat dipertahankan setelah pertanyaan kedua diajukan karena mereka sadar bahwa jawaban yang akan terlontar hanya akan membangkitkan murka Panembahan. Inilah yang lantas membuat mereka diusir dari kantor. Hanya ayah Joemal yang masih bertahan di Ketapang selama satu bulan lamanya.

Mantri Controleur dari Tumbang Titi datang untuk memberi saran karena ada banyak pembahasan tentang “keinginan tak terucap itu”. Ia pun menyusun sebuah proposal untuk pembangunan sekolah negeri dengan beberapa selipan cara bertindak sekolah misi. Proposal tersebut diajukan sebanyak tiga kali hingga hal-hal yang berbau sekolah misi hilang sepenuhnya. P. Leo de Jong OFM Cap, menuliskan:

“Jadi, tidak ad acara lain selain meninggalkan kedamaian Sekolah Misi karena petisi baru tidak akan berguna dan sudah tidak akan berguna dan sudah tidak ada harapan lagi dalam memperjuangkan hak kami di Sungai Kiri.” (CH Leo: 77-78)

Surat petisi dari Serengkah yang sudah ditandatangai dan dikirim oleh P. Donatus Dunselman OFM Cap juga tidak berguna lagi. Bahkan, pemerintah swapraja (Zelfbestuurder) menyinggung juga dokumen-dokumen tentang pengajuan sekolah misi di Sungai Kiri dengan mengatakan: “Anda melihat bahwa surat yang telah ditandatangani ini, tidak penting bagi saya. Siapa yang memberontak mendapat balasan. Oh, lebih buruk lagi: Ini balas dendam saya!” (CH Leo: 78)

Perayaan Natal 1973 dilaksanakan di Sandai dengan mengundang Jemaat Protestan. Selain dihadiri oleh Jemaat Protestan, Bapa Uskup, Sr. Desideria, Sr. Margareta, dan Br Nikolas juga hadir. Saat itulah Bapa Uskup menjanjikan akan mendirikan sebuah Gereja di Sandai. Hal ini sangat mendorong umat di Sandai. Akhirnya, 2 hektar kebun karet dapat dimiliki umat sebagap persiapan untuk membangun gereja. Tanah tersebut dibeli dari Ny. Hang Meng dengan menukar sebuah mesin Listrik.

Gereja pertama di Sandai dibangun pada 1979.

 

PERJALANAN SEBAGAI PRAPAROKI

               Seturut laporan Bp. Y. Tukiman Hadisusilo selaku staff kesekretariatan keuskupan, Sandai diangkat statusnya sebagai praparoki di bawah Paroki Salib Suci Menyumbung pada Januari 1989. Dalam perjalanan sebagai Praparoki kurang lebih berjalan selama 1 Tahun.

 

PERJALANAN SEBAGAI PAROKI

Perjalanan sebagai paroki pada saat itu sebelum menjadi paroki dan belum ada gereja umat melaksanakan ibadat Bersama di Rumah umat diantaranya rumah Pak Aloi, Rumah Pak Amat dan rumah lainya. Pada tahun 1977 an saat itu umat yang ada disandai masih belum ada perkembangan akan tetapi ada perubahan yang terjadi pada saat itu ada beberapa tokoh umat yang berperan aktf untuk membangun iman umat. Gereja di sandai dibangun pertama kali sekitar tahu 1977 -1978 an yang dimana seorang ketua panitia yang dilibatkan dari kecamatan yang bukan satu agama dengan kita aitu agama islam. Dalam Pembangunan gereja ini dana yang diperoleh dari Kecamatan dan Swadaya Umat umat untuk berkerja sama. Ada beberpa tokoh umat maupun katekese juga yang berperan, untuk menumbuhkan semangat umat



[1] Bdk. Amalia Astari, Riska Risdiani, dan Rianti Manullang (Penerj.), Awal Karya Keselamatan di Ketapang: Catatan P. Leo de Jong OFM Cap dari Balik Penjara Jepang di Kuching, (Ketapang: Keuskupan Ketapang, 2019), hlm. 47.

[2] Bdk. Amalia Astari, Riska Risdiani, dan Rianti Manullang (Penerj.), Awal Karya Keselamatan di Ketapang: Catatan P. Leo de Jong OFM Cap dari Balik Penjara Jepang di Kuching, (Ketapang: Keuskupan Ketapang, 2019), hlm. 4.

[3] Mencakup Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Randau Jekak, Keluarga Kudus Sepotong, Salib Suci Menyumbung, St. Gabriel Sandai, dan St. Petrus & Paulus Sungai Daka.

[4] Bdk. Vitalis C.F. Fraumau CP, “Sejarah Singkat Paroki Salib Suci Menyumbung”, dalam 25 Tahun Paroki Salib Suci Menyumbung: 1961 – 1986, TRIKA, No. 50. Hlm. 12.